Selasa, 22 Januari 2013

SUPERVISI PENDIDIKAN


SUPERVISI PENDIDIKAN
Tata Suharta
1.    Konsep dasar supervisi Pendidikan
Membangun kualitas pendidikan sangat erat kaitannya dengan membangun kualitas pembelajaran. Sementara kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik (guru). Meski guru bukanlah satu-satunya instrumen dalam dunia pendidikan, tetapi gurulah yang memegang peranan penting serta sebagai ujung tombak sukses dan gagalnya suatu pendidikan. Dalam proses pembelajaran seringkali guru melakukan kesalahan, oleh karena itu  guru memerlukan layanan supervisi (pembinaan) pengajaran, karakteristik dan rasional. Lalu bagaimana yang harus dilakukan dalam supervisi pengajaran sebagai upaya peningkatan kualitas guru?

Faktor lain yang mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan, salah satunya adalah peran kepala sekolah dan pengawas. Pengelolaan sekolah mencakup beberapa unsur, antara lain mengembangkan dan merawat fasilitas sekolah; merencanakan dan mengusahakan pengadaan sumber belajar, buku, alat, dan bahan yang dibutuhkan guru untuk mengajar; bekerja sama dengan orang tua dan masyarakat; namun yang paling penting adalah menjamin mutu pendidikan yang diterima anak. Pengawas juga mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi kepala sekolah, guru, orang tua dan masyarakat di wilayahnya supaya mereka secara aktif bekerja untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya. Ada beberapa kepala sekolah di masing-masing daerah yang berperan aktif dalam pengelolaan sekolahnya seperti yang diinginkan, namun masih banyak yang pasif dimana mereka hanya melakukan administrasi wajib dan tidak berusaha mendorong kemajuan sekolahnya. Peran kepala sekolah dan pengawas yang aktif akan mendorong kemajuan pendidikan di sekolahnya berdasarkan pengalaman nyata di lapangan.
Permendiknas nomor 12 tahun 2007 mengamanatkan bahwa seorang pengawas sekolah harus mampu dan menguasai melakukan penilaian kinerja baik kinerja guru ,kepala sekolah ,dan staf (tenaga administrasi sekolah ) merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah/madrasah. Kompetensi tersebut termasuk dalam dimensi kompetensi evaluasi pendidikan. Sedangkan Salah satu isi dari PerMendiknas nomor 13 tahun 2007  adalah tentang kompetensi manajerial kepala sekolah, kepemimpinan merupakan standar kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah. Atas dasar pokok pikiran tersebut maka kepala sekolah harus mempunyai keterampilan dalam bidang kepemimpinan dan pengawasan ( supervisi).
Dalam perkembangannya, Supervisor (pengawas dan kepala sekolah) lebih diarahkan untuk memiliki serta memahami bahkan dituntut untuk dapat mengamalkan apa yang tertuang dalam peraturan menteri tentang kepengawasan. Tuntutan tersebut salah satunya tentang kompetensi dalam memahami metode dan teknik dalam supervisi. Seorang supervisor adalah orang yang profesional ketika menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk menjalankan supervisi diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan dalam peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa, sebab yang diamatinya bukan masalah kongkrit yang tampak, melainkan memerlukan kepekaan mata batin. Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upaya penelitian yang tertuju pada semua aspek yang merupakan factor penentu keberhasilan. Dengan mengetahui kondisi aspek-aspek tersebut secara rinci dan akurat, dapat diketahui dengan tepat pula apa yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas organisasi yang bersangkutan.
Seorang supervisor membina peningkatan mutu akademik yang berhubungan dengan usaha-usaha menciptakan kondisi belajar yang lebih baik berupa aspek akademis, bukan masalah fisik material semata. Ketika supervisi dihadapkan pada kinerja dan pengawasan mutu pendidikan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Hal ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan dan memfasilitasi kepala sekolah agar dapat melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien.
Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya untuk melakukan suatu pengamatan secara intensif terhadap kegiatan utama dalam sebuah organisasi dan kelembagaan pendidikan dan kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. Mengacu pada pemikiran di atas, maka bantuan berupa pengawasan profesional oleh pengawas satuan tenaga kependidikan tentunya diarahkan pada upaya untuk meningkatkan pelaksanaan kegiatan kepala sekolah dalam menetralisir, mengidentifikasi serta menemukan peluang-peluang yang dapat diciptakan guna meningkatkan mutu kelembagaan secara menyeluruh.
2.    Pengertian Supervisi
Secara morfologis Supervisi berasalah dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan –orang yang berposisi diatas, pimpinan-- terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki. Jadi supervisi adalah segala bantuan yang diberikan pimpinan yang tertuju kepada perkembangan dan pertumbuhan keahlian dan keterampilan staf/ pegawai dalam hal- hal yang inovatif.
Secara semantik Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.
Menurut Ngalim Purwanto (2010), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif. Purwanto memandangkan sebagai pembinaan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.
Menurut Nana Sudjana (2012), supervisi atau pengawasan pendidikan adalah bantuan profesional kesejawatan yang dilakukan melalui dialog kajian masalah pendidikan untuk menemukan solusi dalam meningkatkan kemampuan profesional kepala sekolah, guru dan staf sekolah lainnya guna mempertinggi kinerja sekolah menuju tercapainya mutu pendidikan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Supervisi adalah pengawasan profesional dalam bidang akademik yang dijalankan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dalam bidang pendidikan yang dilakukan lebih mendalam dari sekadar pengawasan biasa untuk memperbaiki mutu pendidikan.
Kegiatan supervisi bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki. Supervisi dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yg masih negatif untuk diupayakan menjadi positif, & melihat mana yang sudah positif untuk ditingkatkan menjadi lebih positif lagi dan yang terpenting adalah pembinaannya
Orang yang melakukan supervise disebut supervisor. Dibidang pendidikan disebut supervisor pendidikan. Menurut keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.
Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya
Kegiatan supervisi sudah ada sejak masa penjajahan Belanda dahulu, yang banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Supervisi masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan.  Tujuan pendidikan di masa penjajahan Belanda disesuaikan dengan tujuan kolonialisme Belanda. Sedangkan tujuan pendidikan di Indonesia sekarang harus sesuai dengan dasar dan tujuan Negara Republik Indonesia.
Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah di masa penjajahan Belanda dapat dikatakan berhasil sebagai pemimpin sekolah jika ia dapat memerintah dan mengawasi para guru, menjalankan tugas sebaik-baiknya sesuai dengan peraturan-peraturan serta ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dan ditetapkan dari atasannya. Berlainan dengan kepala sekolah sekarang setelah Indonesia berkembang, sesuai dengan pendidikan di Negara kita Indonesia yang bersifat nasional-demokratis, kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab atas kelancaran jalannya sekolah secara teknis akademis saja.
3.    TUJUAN UMUM SUPERVISI

Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar personil  tersebut mampu meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar mengajar. Adapun sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah  peningkatan kemampuan profesional guru (kemdikbud).
Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan yaitu :
         Mengkoordinasi, memberikan rangsangan dan mengarahkan lembaga agar mampu menjalankan perannya
         Memberikan dorongan, bantuan profesional kepada personil (guru, kepala sekolah dan staff lainnya) agar mampu menjalankan tugas dan fungsinya
         Mengawasi  kualitas pendidikan/pelatihan
         Memotivasi personil (guru, kepala sekolah dan staff lainnya)

Dari beberapa rumusan tujuan supervisi di atas, dapat dikaji bahwa tujuan supervisi tidak hanya untuk memperbaiki mutu mengajar guru, tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk dalam hal fasilitas yang menunjang kelancaran proses belajar mengajar, peningkatan mutu pengetahuan dan ketrampilan guru, dan lain-lain.
Sedangkan fokus dari supervisi sesuai dari rumusan tujuan di atas adalah bukan pada seseorang atau kelompok saja, akan tetapi semua orang seperti guru-guru, kepala sekolah dan pegawai sekolah lainnya.
Sesuai rumusan di atas, maka usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam rangka terlaksananya tujuan supervisi dapat disimpulkan sebagai berikut:
·      Membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru, kepala sekolah atau pegawai lainnya dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya
·      Berusaha mengembangkan, atau mencari metode-metode untuk mendukung kemajuan dan kebaikan bersama
·      Membina kerja sama yang baik dan harmonis antara guru, murid, orangtua siswa serta pegawai lainnya
·      Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan pegawai lainnya antara lain dengan workshop, seminar, inservice-training, atau upgrading.

4.    PERANAN DAN FUNGSI SUPERVISI

Pada beberapa kajian seperti yang diungkapkan oleh Gregorio (1966) dikemukakan bahwa lima fungsi utama supervisi antara lain berperan sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga terkait, maka tugas seorang supevisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa, kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi, dan dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya, dan bimbingan sendiri dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa,melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

Adapun menurut Ngalim Purwanto, fungsi-fungsi supervisi pendidikan yang sangat penting di ketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk kepala sekolah, adalah sebagai berikut:
1) Dalam Bidang Kepemimpinan
a.   Mengikutsertakan anggota-anggota kelompok dalam berbagai kegiatan
b.   Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan.
c.   Mengikutsertakan semua anggota dalam menetapkan keputusan-keputusan.
d.   Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.
2) Dalam Hubungan Kemanusiaan
a.   Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi anggota kelompok.
b.  Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang demokratis.
c.  Memupuk rasa saling menghormati di antara sesama anggota kelompok dan sesama manusia.
3) Dalam Pembinaan Proses Kelompok
a.  Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan maupun kemampuan masing-masing.
b.  Menimbulkan dan memelihara sikap saling mempercayai anatara sesama anggota maupun antara anggota dan pimpinan.
c.  Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota kelompok.
d.  Bertindak bijaksana dalam menyelesaikan pertentangan atau perselisihan pendapat di antara anggota kelompok.
4)  Dalam Bidang Administrasi Personil
a.  Memilih personil yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
b. Menempatkan personil pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.
c.  Mengusahakan susunan kerja yang menyenangkan dan meningkatkan daya kerja serta hasil maksimal.
5) Dalam Bidang Evaluasi
a.  Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci.
b. Menguasai dan memilki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriterian penilaian.
c.  Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang lenkap, benar, dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada.
d.  Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan.




5.    JENIS SUPERVISI

Jenis supervisi ada 3 yaitu;  Supervisi umum, Supervisi pengajaran,dan Supervisi Klinis
Supervisi umum adalah supervisi yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan atau pekerjaan secara tidak langsung berhubungan dengan usaha perbaikan pengajaran sepertis upervisi  terhadap kegiatan pengelolaan bangunan dan perlengkapan sekolah atau kantor-kantor pendidikan, supervisi terhadap pengelolaan administrasi kantor, supervisi pengelolaan keuangan sekolah atau kantor pendidikan dan sebagainya.
Sedangkan supervisi pengajaran adalah kegiatan-kegiatan kepengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi baik personil maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mmengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan.
Supervisi klinis merupakan bagian dari supervisi pengajaran. Dikatakan supervisi klinis karena prosedur pelaksanaannya lebih ditekankan pada mencari seba-sebab atau kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran, dan kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan tersebut. Sama halnya seperti seorang dokter yang akan mengobati pasiennya.
Di dalam supervisi klinis cara memberikan obatnya dilakukan setelah supervisor mengadakan pengamatan langsung terhadap cara mengajar guru dengan mengadakan diskusi balikan di antara supervisor dan guru yang bersangkutan.
Menurut Richard waller, ”Supervisi klinik adalah supervise yag divokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analsis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk menngadakan modifikasi yang rasional”. Ngalim purwanto,2010,90 “Administrasi dan Supervisi Pendidikan”)
Keith Acheson dan Meredith D.Call mengemukakan bahwaSupervisi klinik adalah proses membantu guru memperkecil ketidak sesuian(kesenjangan) antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal”.
Secara teknik dikatakan bahwa supervise klinis adalah suatu model supervise yang terdiri atas tiga fase, yaitu (1) Pertemuan perencanaan,(2) observasi kelas,dan (3) pertemuan balik.
Dari kedua definisi tersebut  John J.Bolla menyimpulkan “Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru /calon guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut. (Ngalim purwanto,2010,91 “Administrasi dan Supervisi Pendidikan”)
Menurut Ngalim Purwanto ( 2010 ; 91-92 ) adalah sebagai berikut :
1.      Bimbingan suprvisor kepada guru / calon guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi.
2.      Jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru atau calon guru yang akan disupervisi, dan disepakati melalui pengkajian bersama antara guru dan supervisor.
3.      Meskipun guru atau calon guru menggunakan berbagai keterampilan mengajar secara terintegrasi, sasaran supervisi hanya pada keterampilan tertentu saja.
4.      Instrumen supervisi dikembangkan dan disepakati bersama antara supervisor dan guru berdasarkan kontrak.
5.      Perbaikan dengan segera dan secara objektif ( sesuai data yang direkam oleh instrumen observasi ).
6.      Meskipun supervisor telah menganalisis dan menginterpretasi data yang direkam oleh instrumen observasi, di dalam diskusi atau pertemuan balikan guru calon guru diminta terlebih dahulu menganalisis penampilannya.
7.      Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan.
8.      Supervisi berlangsung dalam suasana intim dan terbuka.
9.      Supervisi berlangsung dalam siklus yang meliputi perencanaan, observasi, dan diskusi atau pertemuan balikan.
10.  Supervisi klinis dapat dipergunakan untuk pembentukan dan peningkatan dan perbaikan keterampilan mengajar ; di pihak lain dipakai dalam konteks pendidikan prajabatan ( pre service dan inservice education ).

Keunggulan supervisi Klinis
a.       Kegiatan supervisi akan berlanhsung baik karena dapat mengumpulkan informasi yang tepat, langsung dari guru sendiri, yang memang diperlukan dan tepat untuk digunakan dalam pembinaan.
b.      Pihak pengawas atau kepala sekolah yang melaksanakan supervisi akan merasa puas karena dapat memberikan bantuan yang tepat kepada guru yang memerlukan.
c.       Oleh karena supervisi dilaksanakan berdasarkan hasil diskusi bersama dengan guru dan dituliskan dalamm bentuk perencanaan maka langkah kegiatannya menjadi pasti,setiap langkah dapat diikuti dan dicermati mana yang sudah dapat terlaksana dan mana yang belum, sertadapat dikaji ulang untuk peningkatan dilain waktu.
d.      Bagi pihak guru akan merasa lebih dekat dengan pengawas dan kepala sekolah sehingga lama kelamaan tidak ada lagi yang perlu ditutupi. Dalam kegiatan yang lainpun keterbukaan seperti itu akan tetap terpelihara.Situasi inilah yang akan membantu menciptakan ilklim sekolah dengan suasana harmonis dan penuh kekeluargaan.
e.       Guru akan merasa puas karena telah mendapatkan pembinaan yang sesuai dengan yang diperlukan, yaitu memecahkan masalah yang dijumpai secara tepat sasaran sehingga problema mengajar akan dapat teratasi.

6.        KAJIAN CIRI SUPERVISOR YANG BAIK
Jelas kiranya bahwa implementasi suatu konsep supervisi memerlukan adanya suatu kepemimpinan pendidikan yang cukup baik. Untuk itu seorang supervisor harus dibekali secara personal maupun profesional sifat-sifat dan pengetahuan yang sesuai dengan profesi jabatannya. Setidaknya ada beberapa ciri atau sifat seorang supervisor yang baik antara lain :
1.        Pribadi sebagai guru yang baik dan menyenangkan
2.        Memiliki pembawaan kecerdasan yang tinggi
3.        Memiliki pandangan yang luas mengenai proses pendidikan dalam masyarakat
4.        Memiliki kecakapan melaksanakan human relation yang baik
5.        Cinta pada anak-anak dan menaruh minat terhadap masalah-masalah belajar mereka
6.        Memiliki kecakapan dalam proses kelompok
7.        Cakap memimpin kelompok menurut prinsip-prinsip demokratis
8.        Memiliki keteguhan hati untuk mengambil tindakan cepat  dan segera memperbaiki terhadap kesalahan yang dilakukan 
9.        Mau menerima perubahan
10.    Berani mengungkap pendapat dan gagasan
11.    Harus dapat menjadi seorang generalis dalam approachnya terhadap keseluruhan program
12.    Memiliki  intuisi yang baik
13.    Memperluas kecakapannya dalam berbagai hal
14.    Melaksanakan hubungan yang kooperatif
15.    Berusaha mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan bersinergi dengan anggota kelompok
16.    Toleransi, jujur, tegas, rajin, dinamis, rendah hati, berkemauan keras, mempunyai rasa humor, sabar dan tekun
Sifat dan karakter di atas seharusnya dimiliki oleh seorang pengawas dalam rangka melaksanakan tugas pokoknya sebagai seorang pengawas/ supervisor pendidikan pada sekolah yang dibinanya. Dengan demikian kehadiran pengawas di sekolah bukan untuk mencari kesalahan sebagai dasar untuk memberi hukuman akan tetapi harus menjadi mitra sekolah dalam membina dan mengembangkan mutu pendidikan di sekolah sehingga secara bertahap kinerja sekolah semakin meningkat menuju tercapainya sekolah yang efektif.
Supervisi dalam pendidikan (instructional supervision) diperlukan guru sebagai umpan balik terhadap pengajarannya sehingga memperkuat keterampilan mengajarnya untuk meningkatkan kinerjanya. Supervisi pendidikan memfokuskan pada peningkatan pengajaran guru, dan pada gilirannya meningkatkan kemampuan akademik siswa. Di sini supervisi pendidikan sebagai alat untuk meningkatkan pengajaran guru, oleh karena itu dalam supervisi supervisor harus berupaya meningkatkan perilaku,kemampuan, dan sikapsikap guru.
7.    TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI
Secara garis besar cara atau teknik supervisi dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
A.     Teknik perseorangan
Yang dimaksud dengan supervise secara perseorangan ialah supervise yang dilakukan secara perseorangan, beberapa kegiatan diantaranya:
a)      Mengadakan kunjungan kelas (classroom visitation)
 adalah kunjungan yang dilakukan oleh supervisor (kepala sekolah dan pengawas) untuk melihat atau mengamati seorang guru yang sedang mengajar.tujuan mengobservasi bagamana guru mengajar, masih terdapat kelemahan atau kekurangan yang sekiranga masih perlu diperbaiki, selanjutnnya diadakan diskusi untuk memberikan masukan untuk perbaikan proses belajar-mengajar selanjutnya.
b)      Mengadakan kunjungan observasi (observation visits)
 guru dari suatu sekolah dberi tugas untuk melihat/mengamati seorang guru  yang sedang mendemontrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu,, misal cara menggunakan alat/ media yang baru, seperti audio visual aids, cara mengajar dengan metode tertentu, seperti sosiodrama, problem sulving, diskusi planel fish bolw, metode penemuan (discovery).
c)     Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa dan atau mengatasi problema yang dialalmi siswa Banyak masalah yang dialalmi guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa misal siswa yang lamban dalam belajar, tidak dapat memusatkan perhatian, siswa yang “nakal” disini wali kelas adalah pembimbing yang utama, di beberapa sekolah dibentuk bagian bimbingan dan konseling, masalah-masalah yang ditimbulkan oleh siswa itu sendiri dan tidak dapat diatasi oleh guru kelas diserahkan kepada konselor. Dalam hal ini sangat diperlukan peranan supervisor terutama kepala sekolah. 
d)     Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah antara lain:
o        Menyusun program semester dan mingguan
o        Menyusun atau membuat satuan program pelajaran
o        Mengorganisasi kegiatan-kegiatan pengololaan kelas
o        Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran
o        Mengadakan media dan sumber dalam PBM
o        Mengorganisasikegiatan-kegiatan siswa dalam bidang ektrakurikuler, study tour, dsb.
B.  Teknik Kelompok
ialah supervise yang dilakukan secara kelompok
a)      Mengadakan pertemuan atau rapat (meetings)
Kepala sekolah menjalankan tugas sesuai perencanaan seperti mengadakan rapat kepada guru dalam rangka supervise yang berhubungan dengan dengan pelaksanaan pengembangan kurikulum.
b)      Mengadakan diskusi kelompok (group discussions)
Diskusi kelompok dengan membentuk kelompok–kelompok guru bidang studi yang berminat mata pelajaran tertentu yang telah diprogramkan untuk mengadakan pertemuan /diskusi guna membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan usaha pengembangan dan eranan proses belajar mengajar.
c)      Mengadakan penataran-penataran (inservice-training)
Penataran untuk guru bidang studi tertentu pada umumnya diadakan oleh pusat atau wilayah, tugas kepala sekolah adalah mengelolah dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran, agar adapat dipraktekkan oleh guru-guru. (Ngalim purwanto,2010,122 “Administrasi dan Supervisi Pendidikan”)
Dari uraian di atas, ternyata banyak cara tentang teknik supervisi yang dapat dilakukan seorang supervisor/pengawas. Namun kenyataan di lapangan kebanyakan supervisi masih dianggap sebagai pelengkap saja. Sebagai gambaran berupa analisis kondisi berkenaan dengan pelaksanaan supervisi guru mata pelajaran di SD oleh pengawas sekolah, sebagai berikut:
Pertama, beberapa kenyataan di bidang mata pelajaran di sekolah-sekolah menunjukan bahwa, masih ada para pengawas sekolah (pelaksana supervisi mata pelajaran), entah itu Kepala Sekolah dan Pengawas yang memahami supervisi identik dengan penilaian atau inpeksi terhadap para guru. Hal ini karena dalam praktik pelaksanaan supervisinya, mereka cenderung menilai dan mengawasi apa yang dikerjakan oleh guru, atau mencari-cari kekurangan dan kesalahan para guru. Seringkali kekurangan ini diangkat sebagai temuan. Semakin banyak temuan, maka dianggap semakin berhasil para pelaku supervisi tersebut.
Kedua, pelaksanaan supervisi tidak lebih dari hanya sekedar petugas yang sedang menjalankan fungsi administrasi, mengecek apa saja ketentuan yang sudah dilaksanakan dan yang belum. Karena itu, bobot kegiatannya sangat bersifat administratif. Hasil kunjungan itu kemudian disampaikan sebagai laporan berkala, misalnya bulanan, yang ditujukan kepada atasannya.
Ketiga, lebih parah lagi, yakni banyak di antara petugas supervisi yang kurang memahami hakikat dan subtansi pembelajaran di sekolah. Mereka tidak paham tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran yang sebenarnya. Sehingga para pengawas itu tidak dapat memberikan arahan, contoh, bimbingan, dan saran agar sesuatu proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah lebih baik dari pada hasil yang dicapai sebelumnya.
Keempat, rasio jumlah pengawas sekolah dan jumlah sekolah secara kuantitatif telah memenuhi ketentuan standar minimal mengenai jumlah sekolah yang harus diawasi. Selain itu, latar belakang pendidikan dan pengalaman jabatan terakhir yang sangat bervariasi, menunjukan beragamnya kemampuan serta motivasi kinerja pengawas sekolah. Hal tersebut perlu mendapat perhatian para pembina struktural pada tingkat regional

8.    PENDEKATAN SUPERVISI
Ada 3 pendekatan yang bisa dilakukan dalam supervisi pendidikan, yaiti :
      Pendekatan direktif
      Pendekatan non direktif
      Pendekatan kolaboratif
Di dalam lingkungan sekolah yang pada intinya adanya proses kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh guru kepada para peserta didiknya. Dalam hal ini seorang guru merupakan faktor yang utama dalam proses peningkatan dan perbaikan pengajaran. Untuk meningkatkan perbaikan dan kualitas kepala sekolah disinilah seorang supervisor harus bisa melakukan pendekatan dan teknik secara manusiawi karena setiap kepala sekolah mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga supervisor harus bisa menempatkan pendekatan dan teknik dalam meningkatkan kinerja kepala sekolah harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Mempelajari berbagai pendekatan dalam supervisi memungkinkan kepala sekolah untuk mempunyai wawasan yang luas tentang pekerjaan supervisor.
Dalam proses pembinaan, kepala sekolah mengalami pertumbuhan secara terus-menerus. Tugas supervisi adalah membimbing sehingga makin lama kepala sekolah makin dapat berdiri sendiri dan bertumbuh dalam jabatannya usaha sendiri. Belajar harus dilakukan melalui pengamatan dan pemahaman dengan pengalaman yang nyata. Melalui pendekatan-pendekatan di atas ini supervisor percaya bahwa kepala sekolah/guru melakukan analisis dan memecahkan masalah yang dihadapinya dalam mengelola lembaga pendidikan di tingkat persekolahan.
Kepala Sekolah merasakan adanya kebutuhan bahwa ia harus berkembang dan mengalami perubahan, selanjutnya ia bersedia mengambil tanggung jawab terjadinya perubahan. Jika kondisi seperti ini ada, maka perbaikan pengajaran itu dapat terjadi. Jadi supervisor berfungsi sebagai fasilitator dengan menggunakan struktur formal sesedikit mungkin.
Pada kebanyakan kasus di lapangan, supervisor diidentikkan dengan tugas-tugas yang teresan membebankan guru, kepala sekolah serta sekolah itu sendiri, sehingga kesan ini muncul tentu tidak dengan sendirinya, oleh sebab itu langkah yang harus dilakukakn oleh guru, kepala sekolah serta pengawas hendaknya duduk bersama dan merumuskan kepentingan bersama yang berorientasi pada kepentingan kelembagaan pendidikan secara menyeluruh.
Dengan prinsip pendekatan diatas, maka jelaslah masing-masing tugas, peran serta fungsinya, dan yang lebih penting masing-masing dapat mengukur efektifitas kinerja terkait baik di lingkungan guru, kepala sekolah ataupun pengawas pendidikan.

9.        TIPE/MODEL SUPERVISI

Ada lima tipe supervisi, dari yang paling memberikan kebebasan kepada guru dan staf tata usaha sampai pada yang paling ketat aturannya, dengan supervisor sebagai penguasa kelima tipe tipe supervise tersebut adalah
·         Tipe inspeksi
·         Laises faire
·         Coursive
·         Training and guidance
·         Demokratis

1.    Tipe Inspeksi
Tipe seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak sebagai “Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru. Supervisi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya. Supervisor juga mengukur sejauh mana tugas-tugas yang diperintahkan tersebut sudah dapat diselesaikan, masih membutuhkan bantuan dan pembinaaan.
2. Tipe Laissez Faire
Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran. Supervisi tipe Laisez faire memberi kebebasan gerak kepada pelaku untuk berinisiatif, bagi pegawai yang kreatifitas  tinggi akan maju sebaliknya bagi pegawai yang  fasif.
3. Tipe Coersive
Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya memaksakan kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang bersifat awal. Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah yang pasti.
4. Tipe Training dan Guidance
Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal yang positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.
5. Tipe Demokratis
Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. Apabila dikaitkan dengan fungsi-fungsi manajemen, supervisi berada atau terselip dalam fungsi dinamis, yaitu pengarahan, koordinasi, dan evaluasi. Apabila kondisi dan  situasi kepemimpinan sekolah memang kondusif untuk terjadinya supervisi tipe demokratis, maka fungsi –fungsi pengarahan, koordinasi, dan evaluasi dapat terjadi bukan dari satu arah, tetapi kolaboratif , ada kerja sama semua pihak yang ada  di dalam organisasi. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. 
            Apapun tipe yang dipilih oleh supervisor dalam dalam melaksanakan supervisi namun tidak boleh melupakan prinsip-prinsip menjadi paduan kerja, yaitu :
a.         Supervisi adalah pemberian bimbingan dan batuan kepada guru dan staf tat usaha agar mampu meningkatkan kinerja.
b.        pemberian bimbingan dan batuan dilakukan secara langsung, tidak perlu ada perantara.
c.         pemberian bimbingan dan batuan harus dikaitkan dengan peristiwa yang memerlukan bimbingan.
d.        Kegiatan supervise dilakukan secara berkala agar terjadi mekanisme yang ajek dan rutin.
e.         Supervise terjadi dalam suasana kondusif penuh sifat kekluargaan agar terjalin kerja saa yang baik.
f.         Supervise dilakukan dengan menggunakan catatan agar apa yang dilakukan dan ditemukan tidak hilang . Temuan dan hal-hal penting lainnya merupakan bahan binaan yang sangat penting artinya dan dapat dibahas dalam pertemuan rutin pengawas (KKPS) dan kepala sekolah (KKKS).
g.        Prinsip-prinsip supervisi yang dikemukakan oleh ngalim purwanto dan oteng sutrisna lebih mengejar persyaratan yang perlu ditaati untuk dipenuhi bagi petugas supervisor yang ingin sukses. ( Arikunto, 2004,25).

10.    PRINSIP SUPERVISI
Secara aplikatif prinsip-prinsip Supervisi adalah sebagai berikut :
  1. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan mencari-cari kesalahan.
  2. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.
  3. Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan.
  4. Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.
  5. Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta suasana kemitraan yang akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.
  6. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal-hal penting yang diperlukan untuk membuat laporan.
Karena prinsip-prinsip supervisi di atas merupakan kaidah-kaidah yang harus dipedomani atau dijadikan landasan di dalam melakukan supervisi, maka hal itu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari para supervisor, baik dalam konteks hubungan supervisor-guru, maupun di dalam proses pelaksanaan supervisi.
Jadi dalam melaksanakan fungsi supervisi akademik, pengawas hendaknya dapat berperan sebagai:
1.      Mitra guru dalam meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran dan bimbingan di sekolah binaannya
2.      Inovator dan pelopor dalam mengembangkan inovasi pembelajaran dan bimbingan di sekolah binaannya
3.      Konsultan pendidikan di sekolah binaannya
4.      Konselor bagi kepala sekolah, guru dan seluruh staf sekolah
5.      Motivator untuk meningkatkan kinerja semua staf sekolah

11.    KUALIFIKASI SUPERVISOR
Mengingat beratnya pekerjaan dan tanggung jawab seorang supervisor, maka supervisor harus dibekali dengan kualifikasi yang handal. Setidaknya ada beberapa kualifikasi supervisor, antara lain :
a.         Memiliki pengetahuan/kepandaian yang memadai
b.         Memiliki sikap yang baik
c.         Memiliki berbagai keterampilan
d.        Dapat merencanakan
e.         Dapat melakukan pekerjaan supervisi
f.          Menjalankan kontrol
Dengan kualifikasi di atas yang dimiliki oleh supervisor dapat sehingga diharapkan supervisor :
1.      Mampu melakukan supervisi sesuai prosedur dan teknik-teknik yang tepat
2.      Mampu melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan program pendidikan sesuai dengan prosedur yang tepat
3.      Memahami dan menghayati arti, tujuan dan teknik supervisi
4.      Menyusun program supervisi pendidikan
5.      Melaksanakan program supervisi pendidikan
6.      Memanfaatkan hasil-hasil supervisi
7.      Melaksanakan umpan balik dari hasil supervisi
Hambatan yang dihadapi pengawas terutama berkaitan dengan kondisi nyata dilapangan bahwa pengawas sekolah memiliki citra yang kurang baik. Hal ini sebagai dampak dari pelaksanaan tugas yang hanya menekankan pada aspek administratif dari pada subtantif pengajaran. Jadi, faktor penghambat dalam efektifitas pembinaan guru lebih pada faktor pribadi; yakni ketidakmampuan para pengawas pendidikan untuk melaksanakan pembinaan professional guru secara efektif karena keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan bahkan kepribadiannya. Hal-hal yang memperburuk citra dan kinerja pengawas sekolah adalah latar belakang pengawas yang tidak menguasai bidangnya serta tidak cukup memiliki motivasi yang tinggi dalam menjalankan tugasnya.











12.    LINGKUP SUPERVISI PENDIDIKAN 
Supervisi pendidikan tidak hanya mengawasi kondisi mengajar guru dan aspek administrasi sekolah. Tetapi ruang lingkup supervisi pendidikan sangat luas dan banyak, dimana tujuannya adalah untuk memperbaiki kondisi sekolah baik secara fisik, akademik maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah.
Ruang lingkup supervisi antara lain :
a.       Kesiswaan
b.      Kurikulum dan pembelajaran
c.       Bahan ajar
d.      Metoda pengajaran
e.       Evaluasi
f.       Gadik
g.      Fasilitas Pendidikan
h.      Alat instruksi dan penolong instruksi
i.        Anggaran
Dari uraian di atas terlihat bahwa ruang lingkup tugas pengawas tidak hanya berhubungan dengan guru dan pimpinan sekolah saja. Akan tetapi berhubungan juga dengan semua yang berkaitan dengan sekolah, seperti siswa, orangtua siswa maupun masyarakat secara umum.
Sebagai contoh kasus pada suatu sekolah, Kepala sekolah ”SMA NEGERI ANGIN” menyadari betul tentang masalah-masalah yang berkembang di sekolahnya, sehingga dia berusaha sekuat tenaga mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memecahkan masalah tersebut, sehingga pada gilirannya, maka tercetuslah sebuah gagasan untuk mengundang pengawas ke sekolah ”SMA NEGERI ANGIN”.
Idealnnya sebuah gagasan, maka sebelum pengawas datang ke sekolah dimaksud, kepala sekolah menampaikan pesan berupa undangan kepada guru-guru untuk dapat menerima pengarahan dari pengawas pendidikan yang dengan sengaja dihadirkan ke sekolah tersebut guna mendapatkan pengarahan tentang sekolah unggul dan berkualitas.
Berikutnya, maka berjalanlah pengarahan yang diberikan oleh pengawas pendidikan di ”SMA Cengceremen”, bahkan berjalan dalam durasi kurang lebih selama dua jam pengawas memberikan gambaran yang cukup menyeluruh tentang kualitas kelembagaan pendidikan, namun hal yang menarik dari diskusi yang berkembang, ketika guru-guru menanyakan tentang cara yang harus ditempuh dalam meningkakan disiplin siswa serta cara memelihara faslitas sekolah dengan cara membuat laporan keuangan, bahkan ditambahkan pula oleh kepala sekolah yang mempertanyakan tentang relevansi hal tersebut untuk kalangan SMA.
Secara spontan pengawas memberikan pernyataan yang sangat mencengangkan, yakni berupa ungkapan bahwa ” itu urusan saudara-saudara untuk memikirkannya, pengawas sudah cukup banyak dibebani oleh tugas-tugasnya ditempat bekerja dan ditempat lain, begitu cetusnya. Akhirnya guru-guru serta kepala sekolah merasa kecewa dengan pernyataan pengawas sepert diatas.
Kasus lain yang muncul setelah pengawas meninggalkan tempat, maka kepala sekolah ”SMA NEGERI ANGIN” meminta guru-guru untuk tidak putus asa dan tersinggung dengan ungkapan pengawas X, dan yang paling penting kepala sekolah memberikan pernyataan yang sepertinya bersifat mendukung pengawas dengan ungkapan ” ya sudahlah bagaimana pun mutu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama”.
Namun secara spontan seorang guru bertanya ” pak, bagamimana kelanjutan pembahasan masalah yang pernah bapak sampaikan kepada kami, dan kepala sekolah pun pergi tanpa menghiraukan pertanyaan guru tersebut. Dari pertanyaan terakhir, maka muncul berbagai isu yang berkembang baik pada personal guru yang mencerminkan kinerja yang kurang kompeten serta hubungan yang disharmonis antara guru, kepala sekolah dan pengawas pendidikan
Memahami dan memaknai kasus diatas yang terjadi di ”SMA NEGERI ANGIN”, maka terdapat beberapa cara yang haus ditempu baik oleh guru, kepala sekolah maupun pengawas pendidikan, yakni pengembangan mutu pendidikan hendaknya dimulai dari adanya integritas, efektivitas dan kualitas sekolah.
Ketiga hal inilah sebenarnya yang mendorong berbagai komponen pendidikan untuk mengembangkan sekolah menuju kearah kompetensi lembaga, sehingga pada gilirannya untuk memaknai sebuah integritas kinerja yang menyatu, maka diperlukan pula pemahaman mengenai input, transpormasi serta output berdasarkan kriteria keefektipan yang masing-masing dikembangkan dalam pengawasan mutu kelembagaan secara komprehenshif.
Menganalisa kasus diatas, maka di atas maka tugas pengawas seharusnya mencakup: (1) inspecting (mensupervisi), (2) advising (memberi advis atau nasehat), (3) monitoring (memantau), (4) reporting (membuat laporan), (5) coordinating (mengkoordinir) dan (6) performing leadership dalam arti memimpin dalam melaksanakan kelima tugas pokok tersebut (Ofsted, 2003).
Tugas pokok inspecting (mensupervisi) meliputi tugas mensupervisi kinerja kepala sekolah, kinerja guru, kinerja staf sekolah, pelaksanaan kurikulum/mata pelajaran, pelaksanaan pembelajaran, ketersediaan dan pemanfaatan sumberdaya, manajemen sekolah, dan aspek lainnya seperti: keputusan moral, pendidikan moral, kerjasama dengan masyarakat.
Tugas pokok advising (memberi advis/nasehat) meliputi advis mengenai sekolah sebagai sistem, memberi advis kepada guru tentang pembelajaran yang efektif, memberi advis kepada kepala sekolah dalam mengelola pendidikan, memberi advis kepada tim kerja dan staf sekolah dalam meningkatkan kinerja sekolah, memberi advis kepada orang tua siswa dan komite sekolah terutama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan.
Tugas pokok monitoring/pemantauan meliputi tugas: memantau penjaminan/ standard mutu pendidikan, memantau penerimaan siswa baru, memantau proses dan hasil belajar siswa, memantau pelaksanaan ujian, memantau rapat guru dan staf sekolah, memantau hubungan sekolah dengan masyarakat, memantau data statistik kemajuan sekolah, memantau program-program pengembangan sekolah.
Tugas pokok reporting meliputi tugas: melaporkan perkembangan dan hasil pengawasan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Propinsi dan/atau Nasional, melaporkan perkembangan dan hasil pengawasan ke masyarakat publik, melaporkan perkembangan dan hasil pengawasan ke sekolah binaannya.
Tugas pokok coordinating meliputi tugas: mengkoordinir sumber-sumber daya sekolah baik sumber daya manusia, material, financial dll, mengkoordinir kegiatan antar sekolah, mengkoordinir kegiatan preservice dan in service training bagi Kepala Sekolah, guru dan staf sekolah lainnya, mengkoordinir personil stakeholder yang lain, mengkoordinir pelaksanaan kegiatan inovasi sekolah.
Tugas pokok performing leadership/memimpin meliputi tugas: memimpin pengembangan kualitas SDM di sekolah binaannya, memimpin pengembangan inovasi sekolah, partisipasi dalam memimpin kegiatan manajerial pendidikan di Diknas yang bersangkutan, partisipasi pada perencanaan pendidikan di kabupaten/kota, partisipasi pada seleksi calon kepala sekolah/calon pengawas, partisipasi dalam akreditasi sekolah, partisipasi dalam merekruit personal untuk proyek atau program-program khusus pengembangan mutu sekolah, partisipasi dalam mengelola konflik di sekolah dengan win-win solution dan partisipasi dalam menangani pengaduan baik dari internal sekolah maupun dari masyarakat. Itu semua dilakukan guna mewujudkan kelima tugas pokok di atas.
Berdasarkan uraian tugas-tugas pengawas sebagaimana dikemukakan di atas, maka pengawas satuan pendidikan banyak berperan sebagai: (1) penilai, (2) peneliti, (3) pengembang, (4) pelopor/inovator, (5) motivator, (6) konsultan, dan (7) kolaborator dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya. Dikaitkan dengan tugas pokok pengawas sebagai pengawas atau supervisor akademik yaitu tugas pokok supervisor yang lebih menekankan pada aspek teknis pendidikan dan pembelajaran, dan supervisor manajerial yaitu tugas pokok supervisor yang lebih menekankan pada aspek manajemen sekolah (mengenai tugas supervisi pendidikan akan dijelaskan lebih detail pada kajian bagian bawah).


13.    EFEKTIVITAS SUPERVISI
Indikasi supervisi dikatakan efektif, dilihat dari 4 hal yaitu:
a.    Pendelegasian
Supervisor harus dapat membawa timnya ke  arah target/ ssaran yang ditetapkan, mendelegasikan tugas-tugas kepada para guru, staf/pegawai terutama yang bersifat teknis lapangan.
b.    Keseimbangan
Supervisor harus dapat menyeimbangkan penggunaan otoritas  seperti kapan menahan diri, kapan mengoptimalkan   kreativitas     guru/ staf/ pegawai, bersikap tegas,  kapan harus memberi kesempatan guru/ staf/ pegawai menyampaikan pendapat, menerapkan contoh konkrit, menerapkan disiplin waktu.
c.    Jembatan
Supervisor harus dapat menyampaikan visi misi yang telah ditetapkan, harus dapat menyalur berbagai aspirasi guru, staf/ pegawainya, menemukan kepentingan berama, melakukan pengambilan keputusan secara adil, dapat menanggulangi konflik.
d.    Komunikasi
Seorang supervisor seharusnya mampu berkomunikasi multiarah  yang mencakup kemampuan mendengarkan keluhan, masukan dan pertanyaan para guru, staf, pegawai. Mampu mengkomunikasikan tugas-tugas secara efektif serta.menggunakan bahasa yang baik dan jelas dalam melaksanakan tugas-tugas dan  dapat dipahami oleh kemampuan berpikir para guru/staf / pegawai
Beberapa kenyataan di bidang mata pelajaran di sekolah-sekolah menunjukan bahwa, masih ada para pengawas sekolah (pelaksana supervisi mata pelajaran), entah itu Kepala Sekolah dan Pengawas yang memahami supervisi identik dengan penilaian atau inpeksi terhadap para guru.
Hubungan supervisor dan guru masih ada jarak yang jauh sehingga supervisi hanya sebagai alat untuk mencari kesalahan guru.Hal ini karena dalam praktik  pelaksanaan supervisinya, mereka cenderung menilai dan mengawasi apa yang dikerjakan oleh guru, atau mencari cari kekurangan dan kesalahan para guru. Seringkali kekurangan ini diangkat sebagai temuan. Semakin banyak temuan, maka dianggap semakin berhasil para pelaku supervisi tersebut.
Lebih parah lagi, yakni banyak di antara petugas supervisi yang kurang memahami hakikat dan subtansi keberadaannya di Sekolah. Mereka tidak paham tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran yang sebenarnya. Sehingga para pengawas itu tidak dapat memberikan arahan, contoh, bimbingan, dan saran agar sesuatu proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah lebih baik dari pada hasil yang dicapai sebelumnya.
Pengawasan menjadi efektif jika diperhatikan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya, diantaranya melakukan kajian komprehenshif tentang teknik supervisi yang digunakan oleh supervisor yang menggunakan pendekatan dengan cara melakukan observasi tanpa melakukan analisis dan interpretasi. Jika tahapan supervisi dibagi menjadi tiga bagian ( pembicaraan awal, observasi, analisis dan interpretasi serta pembicaraan akhir), maka supervisi dilakukan sebagai berikut :
1. pembicaraan awal

Dalam pembicaraan awal, supervisor “memancing “ apakah dalam mengajar guru menemui kesulitan. Pembicaraan ini dilakukan secara informal.
2. observasi
Jika perlu bantuan, maka supervisor mengadakan observasi kelas. Dalam observasi supervisor masuk kelas dan duduk di belakang tanpa mengambil catatan. Ia mengambil kegiatan kelas.
3. Analisis dan Interpretasi

Sesudah melakukan observasi, supervisor kembali ke kantor dan memikirkan kemungkinan kekeliruan guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. Jika menurut supervisor, jika guru telah menemukan jawaban maka supervisor maka tidak akan memberi nasihat kalau tidak di minta.
4. pembicaraan akhir

jika perbaikan telah dilakukan, pada periode tertentu guru dan supervisor mengadakan pembicaraan akhir. Dalam pembicaraan akhir, supervisor berusaha membicarakan apa yang sudah di capai guru, dan menjawab kalau ada pertanyaan dan menanyakan kalu guru-guru perlu bantuan lagi.
5. laporan
laporan disampaikan secara deskripsi dengan interpretasi berdasarkan judgment supervisor. Laporan ini ditulis untuk guru, kepala sekolah atau atasan kepala sekolah ( Kadis ), untuk bahan perbaikan selanjutnya.








14.    KETERAMPILAN SUPERVISOR
Seorang supervisi (supervisor) harus memiliki keterampilan sebagai berikut:
  1. Keterampilan teknis yaitu; bisa melakukan hal-hal yang bersifat teknis yang cukup mengenai penyeesaian pekerjaan di organisasinya, menguasai it yang cukup untuk memberikan pengarahan, jika ia merasa masih kurang perlu meningkatkan diri sebelum para guru/ staf/ pegawainya meningkatkan diri mereka.
Dalam memberikan pengarah pada anak buah untuk melakukan pekerjaan, seorang supervisor perlu memiliki keterampilan teknis yang cukup yang menyangkut teknis penyelesaian pekerjaan di unit yang terkait.. Supervisor di bidang IT perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan IT yang cukup untuk memberikan pengarahan. Supervisor di bidang pemasaran asuransi, perlu mengetahui benar produk-produk asuransi dan cara-cara praktis dan efektif untuk memasarkan produk-produk asuransi tersebut. Jikadirasa masih kurang, supervisor perlu meningkatkan diri sebelum membantu anak buah untuk meningkatkan diri mereka.
  1. Keterampilan interpersonal yaitu; keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain atau melakukan sosialisasi, termasuk didalamnya komunikasi hubungan antar manusia yang baik.
Keterampilan ini menuntut seorang supervisor untuk mengelola hubungan baik dengan berbagai pihak (anak buah, karyawan dan manajer di divisi lain baik yang terkait langsung ataupun tidak langsung, supplier, klien, pimpinan perusahaan, dan karyawan lainnya). Keterampilan ini juga mencakup kemampuan menangani konflik di tempat kerja, menangani karyawan yang sulit diajak bekerja sama. Supervisor atau manajer yang memiliki keterampilan ini akan lebih mudah menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk mendukung keputusan yang dibuat dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, serta mencari solusi dari masalah-masalah yang dihadapi.  
  1. Keterampilan manajerial, yaitu; terampil dalam memimpin, menggunakan wewenang (termasuk gaya kepemimpinan), merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan, melakukan pengambilan keputusan.
Seorang manajer atau supervisor diberikan tanggung jawab untuk membuat berbagai keputusan di departemen atau divisi yang dipimpinnya: keputusan menunda sebuah pekerjaan, memulai sebuah pekerjaan, menentukan apakah pekerjaan bisa diselesaikan oleh sumber daya manusia yang ada atau butuh bantuan konsultan dari luar. Semua keputusan mempengaruhi kelancaran jalannya kegiatan operasional dan berdampak pada tercapainya target yang telah ditetapkan.
  1. Keterampilan administrasi, yaitu; keterampilan membuat dan mamatuhi prosedur operasional, peraturan, pedoman perilaku yang berlaku, membuat laporan dinas, laporan buanan, menyusun anggaran, membuat proposal, dan melakuan administratif lain yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditekuninya.
Keterampilan ini antara lain mencakup pengetahuan dan keterampilan membuat mematuhi prosedur operasional, peraturan atau pedoman perilaku yang berlaku, membuat laporan dinas, laporan bulanan, menyusun anggaran, membuat proposal, dan melakukan pekerjaan administratif lainnya yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditekuni. Keterampilan ini seringkali dilupakan oleh perusahaan ketika mempromosikan seseorang sebagai manajer atau supervisor. Umumnya para manajer atau supervisor baru hanya diberikan training untuk memantapkan keterampilan teknis dan meningkatkan keterampilan manajerial, tanpa memperhatikan keterampilan administratif.
5.      Keterampilan konseptual  yaitu; mampu melihat ke depan, mengantisipasi apa yang terjadi, tahu apa yang harus dilakukan ( disebut juga visi), serta mampu membuat konsep/ perencanaan untuk menterjemahkan visi menjadi aksi/ tindakan
Jadi seorang supervisor perlu membekali diri dengan keterampilan yang penting ini, misalnya mengembangkan keterampilan untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada informasi yang berhasil dikumpulkan (information –based decision making), baik melalui data statistik ataupun hasil survei lainnya, metode keputusan yang didasarkan pada penyelesaian masalah (problem-based decision making), dan pengambilan keputusan yang didasarkan pada hasil (result-based decision making).
Disamping hal tersebut, supervisor juga memiliki peran Disamping hal tersebut, supervisor juga memiliki peran sebagai peneliti, konsultan dan penasehat, fasilitator, motivator dan pelopor pembaharuan. Sebagai peneliti, supervisor dituntut untuk mengenal dan memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan pengajaran, oleh sebab itu, ia perlu mengidentifikasi masalah-masalah pengajaran dan mempelajari faktor-faktor atau penyebab ketidakberhasilan sebuah proses pengajaran.
Hal diatas memiliki kesamaan seperti tugas supervsor sebagai agen pembaharu, yakni hendaknya jangan ada kesan bahwa supervisor terlena dan memiliki kepuasan degan hasil yang dicapai, namun hendaknya pengawas harus menjadi pemrakarsa dalam melakukan perbaikan, penyempurnaan serta terus beusaha untuk menggali potensi-potensi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan bersamaan dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin menggelobal, oleh sebab itu supervsor harus menyusun program latihan dan pengembangan dengan cara merencanakan pertemuan atau penataran serta kegiatan sejenis.






15.    TUGAS SUPERVISI PENDIDIKAN
Secara umum rincian tugas seorang supervisor adalah sebagai berikut:
1.      Menghadiri rapat/ pertemuanorganisasi dan antar organisasi
2.      Melatih, membina, dan memelihara kelompok guru/ staf/  pegawai
3.      Melakukan observasi/ pengamatan dan wawancara terhadap pekerjaan dan hasil kerja guru/ staf/ pegawai
4.      Membimbing pelaksanaan program testing
5.      Menulis dan mengembangkan materi—materi kurikulum
6.      Melakukan penilaian dan penseleksian terhadap berbagai program-program kegiatan, sarana dan bahan ajar
7.      Menyiapkan laporan tertulis tentang kunjungan   kelas
8.      Menyusun tes standar dan    mengintepretasikan data tes
9.      Memimpin guru/ staf / pegawai sebagai bawahannya
10.  Memahami tujuan lembaga  dan mengusahakan  agar  hasil kerja guru/ staf/ pegawainya menunjang tujuan lembaga
11.  Membimbing guru/ staf/ pegawai dalam menyusun dan mengembangkan sumber-sumber  dan bahan ajar
12.  Mengorganisasikan dan merevisi kurikulum   bersama dengan kelompok guru
13.  Merencanakan demonstrasi mengajar
14.  Mendelegasikan dan menjadwalkan tugas
15.  Memotivasi guru untuk menggali potensi dan bakatnya mengajar agar aktif, dinamis dan kreative serta mandiri.
Begitu kompleksnya tugas dari supervisor, maka hal yang harus diperhatikan adalah dengan meningkatkan etos kerja supervisor, dalam hal ini kepala sekolah berkewajiban untuk meneliti dan menganalis masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekolah yang sesuai dengan tugasnya. Apabila di lihat dari fungsi administrasi pendidikan tugas dari Supervisor adalah untuk mengkondisikan dan mengefektifkan program-program sekolah secara efisien baik dari relationship maupun hubungannya dengan masyarakatnya. Sebagai pelaksana di dalam pendidikan, supervisor merupakan salah aset dalam membentuk pembentukan konsep-konsep yang telah dirancang dalam program-program saat ini, contohnya saja di dalam melakukan peranannya supervisor harus bisa memberikan bimbingan dan pengawasan yang pada intinya kepada guru, supervisor harus memberikan empati dan simpati secara human relationship untuk menjalin komunikasi yang baik.




16.    Motivasi supervisor
Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Jadi motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahannya, agar mau bekerja sama secara produktif, berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi akan berakibat pada kepuasan kerja, Kepuasan kerja berkenaan dengan kesesuaian antara harapan seseorang dengan imbalan yang disediakan.
Seorang supervisor tidak akan bekerja secara profesional apabila ia tidak memiliki motivasi kerja yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Sebaliknya, betapapun tingginya motivasi kerja seorang supervisor, ia tidak akan bekerja secara profesional apabila ia tidak memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya.Berdasarkan rasional tersebut seorang supervisor, di samping membina kompetensi atau kemampuan atau keterampilan guru, perlu membina motivasi kerja guru dan motivasi terhadap diri sendiri. Abilitas dan motivasi adalah sebagai faktor-faktor yang berinteraksi dengan kinerja. Abilitas seseorang dapat ditentukan oleh skill dan pengetahuan,sedangkan skill dapat dipengaruhi oleh kecakapan. Kepribadian dan pengetahuan dapat dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman latihan dan minat.
Motivasi pada dasarnya dapat bersumber pada diri seseorang yang sering dikenal sebagai motivasi internal dan dapat bersumber dari luar diri seseorang yang disebut motivasi eksternal. Motivasi sangat penting dalam menunjang keberhasilan pencapaian tujuan supervisi. Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang menyebabkan individu atau kelompok mencapai hasil optimal sesuai yang diharapkan. Dalam arti kognitif, motivasi diasumsikan sebagai aktivitas individu untuk menentukan kerangka dasar tujuan dan penentuan prilaku untuk mencapai tujuan prilaku tersebut. Dalam arti afektif, motivasi diartikan sebagai sikap dan nilai dasar yang dianut seseorang atau kelompok bertindak atau tidak bertindak.
Mengingat pentingnya motivasi bagi supervisor, maka seorang supervisor perlu memiliki motivasi untuk bisa tumbuh dan berkembang mencapai hasil kinerja yang optimal. Kinerja yang optimal bisa dicapai apabila seseorang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Tekun menghadapi tugas,
  2. ulet menghadapi kesulitan,
  3. tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi,
  4. ingin mendalami pekerjaan yang dipercayakan kepadanya,
  5. selalu berusaha untuk berprestasi sebaik mungkin,
  6. menunjukan minat yang positif,
  7. lebih senang bekerja mandiridan bosan terhadap tugas-tugas yang rutin,
  8. senang memecahkan persoalan yang dialami selama bekerja

Disamping memotivasi diri sendiri seorang supervisor harus melaksanakan fungsi bimbingan supervisor, yaitu  usaha untuk memotivasi guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya, dan bimbingan sendiri dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Dalam kaitannya dengan peranan gaya kepemimpinan supervisor dalam meningkatkan motivasi guru, perlu dipahami bahwa setiap pemimpin bertanggung jawab mengarahkan apa yang baik bagi bawahannya, dan dia sendiri harus berbuat baik. Pemimpin juga harus menjadi contoh, sabar, dan penuh pengertian. Fungsi pemimpin hendaknya diartikan seperti motto Ki Hajar Dewantoro; “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri Handayani”. Di sini seorang supervisor harus mampu menempatkan dirinya menjadi pemimpin yang demokratis dengan mengambil peran sebagaimana diungkapkan Ki Hajar Dewantoro di atas, sehingga mampu membengkitkan motivasi bawahannya. Oleh karena itu tugas kepala sekolah selaku manager adalah melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Penilaian ini penting untuk dilakukan mengingat fungsinya sebagai alat motivasi bagi pimpinan kepada guru maupun bagi guru itu sendiri.

17.    Supervisor sebagai pemimpin metanoiac

Supervisor mempunyai tanggung jawab terhadap kepemimpinannya dan mempunyai suatu wewenang untuk melakukan suatu kegiatan supervisi. Dalam melakukan tugas supervisi seorang Supervisor membina dan membantu guru dalam memberikan penjelasan mengenai program-program operasional agar mudah dimengerti. Supervisi sebagai usaha menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinyu pertumbuhan guru-guru dan sekolah secara individual maupun kolektif agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran. Supervisi sebagai suatu teknik pelayanan yang mempunyai tujuan utama yaitu mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak didik.
Pengertian supervisi disimpulkan sebagai suatu usaha untuk menstimulasi para guru agar termotivasi dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Supervisi juga merupakan langkah evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar, sehingga para guru yang kinerjanya kurang perlu diadakan perbaikan, dan yang sudah baik dapat diteruskan dan ditingkatkan.
Kemampuan supervisi kepala sekolah cenderung kepada kemampuan kepala sekolah dalam merangsang, membimbing dan mendorong para guru agar meningkatkan profesionalitas-nya dalam bentuk aktivitas berupa tindakan partisipatif bersama-sama para guru, menyelesaikan inovasi yang sesuai untuk diterapkan di sekolah, membantu kesulitan para guru menggunakan strategis perencanaan dalam melaksanakan tugas, dan membantu para guru dalam menyebarkan kebiasaan baru yang dipercaya mampu membawa perubahan positif bagi sekolah. Selama ini guru melihat kepala sekolah sebagai pemimpin sekaligus seorang supervisor yang harus dihormati/dijunjung tinggi, sikap seperti ini nampak pada waktu kegiatan pelaksanaan supervisi. Seorang kepala sekolah yang sedang melakukan kegiatan supervisi dikenal seperti polisi sekolah, sehingga memunculkan rasa ketakutan, keminderan para guru yang pada akhirnya akan berdampak pada kinerja guru.
Sebagian besar persepsi guru mengatakan bahwa seorang kepala sekolah secara administrasi adalah pemimpin dan yang berhak melakukan kegiatan supervisi. Secara yuridis keorganisasian guru berada di bawah pengawasan kepala sekolah. Meskipun demikian, dalam suatu instansi pendidikan, kepala sekolah tidak akan bisa bekerja memajukan lembaganya manakala tidak ada guru dan mungkin akan berlaku sebaliknya guru tidak akan bisa harmonis kalau tidak ada yang memimpin dan mengarahkan.
Kegiatan supervisi yang dilakukan kepala sekolah dimaksudkan untuk mengarahkan para guru agar mempunyai kinerja yang baik dalam menjalankan semua tugas dan tanggung jawabnya kepada Masyarakat dan kepada Allah Swt. Masih terdapat sorotan masyarakat, bahwa masih banyak guru sebagai tenaga pendidik bertindak kurang profesional, terutama berkaitan dengan keberhasilan kinerja guru yang belum maksimal. Hal ini dapat dibuktikan dari dua belas kompetensi guru yang seharusnya dikuasai dan dijalankan oleh para guru banyak yang belum terpenuhi, seperti penguasaan guru tentang landasan pendidikan masih kurang, dan belum seluruhnya guru yang bisa menafsirkan dan mempublikasikan hasil-hasil penelitian, dan sebagainya.
Dalam kaitan peran kepemimpinan supervisor, banyak hasil-hasil studi yang menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang terdapat dalam setiap organisasi merupakan faktor yang berhubungan dengan produktifitas dan efektifitas organisasi




DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. Pedoman Kerja Pelaksanaan Supervisi. Jakarta : Depdikbud,1996
------------- .Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya. Jakarta : Depdikbud, 1996.
------------- Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya Jakarta: Depdikbud, 1998

Nana Sudjana. Dasar-Dasar Proses Belajar-Mengajar Bandung : Sinar Baru, 1998  
-------------- Pengawas dan Kepengawasan. Jakarta: Binamitra Publishing, 2012
-------------- Supervisi Pendidikan Konsep dan Aplikasinya bagi Pengawas Sekolah. Jakarta:  Binamitra Publishing, 2012

Nuraedi. Metode dan Teknik Supervisi bagi Pengawas Satuan Pendidikan. Jakarta ,2008

Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya, 2003

2 komentar:

  1. makalah yang bagus dan lengkap.. mohn izin menggunakannya

    BalasHapus
  2. paparan yang bagus, izin ambil 3 paragraf ya pak... terimakasih sebelumnya

    BalasHapus