Selasa, 22 Januari 2013

METODE ILMIAH


PROSES MENDAPATKAN PENGETAHUAN ILMIAH DENGAN METODE ILMIAH

Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang telah dibuktikan kebenarannya. Teori-teori ilmiah ditarik dengan cara ketat dari fakta-fakta pengalaman yang diperoleh lewat observasi dan experimen. Ilmu didasarkan pada apa yang kita lihat, dengar, raba dan sebagainya. Pendapat atau kesukaan subjektif dan dugaan-dugaan spekulatif perorangan tidak mempunyai tempat di dalam ilmu. Ilmu itu objektif. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang dapat dipercaya, karena ia telah dibuktikan kebenarannya secara objektif.

Landasan epistimologi ilmu disebut metode ilmiah. Dengan kata lain metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu  dalam menyusun pengetahuan  yang benar. Dari pernyataan diatas Tidak semua pengetahuan bisa disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan metode ilmiah.
Langkah-langkah Kerangka Berpikir Ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi :
1)   Perumusan Masalah
Merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan factor-faktor yang terkait di dalamnya.
2)   Penyusunan Kerangka Berpikir dalam pengajuan hipotesis
Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan factor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
a)    Perumusan Hipotesis
b)   Pengujian Hipotesis
c)    Penarikan Kesimpulan
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencangkup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada. Kita memerlukan sarana berfikir ilmiah untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Seorang peneliti harus bisa menguasai sarana ini agar bisa melaksanakan penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Tanpa mengusainya, kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan. Berbagai sarana berfikir ilmiah tersebut adalah:

1.    Bahasa. Bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif (Suriasumantri ;1996). Fungsi simbolik sangat menonjol dalam komunikasi ilmiah. Bahasa diperlukan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terutama dalam hal mengkomunikasikan hasil penelitian. Komunikasi ilmiah tersebut harus bersifat reproduktif, artinya informasi yang dikomunikasikan peniliti harus sama dengan informasi yang diterima pihak lain. Hal ini bisa dicapai jika bahasa yang digunakan adalah jelas (eksplisit) dan objektif sehingga tidak terjadi kesalahan pemahaman atau interpretasi.
2.    Matematika. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkan makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Misal, variabel harga barang dilambangkan dengan P, jumlah barang dengan Q, dan sebagainya. Pemberian makna melalui simbol-simbol tersebut akan dibahas dalam pengukuran variabel dan teknik penskalaan di bab-bab selanjutnya. Yang terpenting, matematika digunakan untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emotif dari bahasa verbal.
3.    Statistika. Pengujian secara empiris meruapakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah. Pengujian tersebut merupakan suatu proses pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang akan dibuktikan kebenarannya. Disinilah peranan statistika yaitu dalam proses induksi. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi sasaran. Jadi statistika adalah sarana untuk melakukan induksi.
Proses Berpikir Ilmiah merupakan kemampuan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, karena manusia mempunyai kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu. Cara berfikir seperti itu disebut penalaran (reasoning). Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri, yaitu logis dan analitis (Suriasumantri, 1996). Berfikir secara logis dan analitis ini merupakan proses berfikir ilmiah. Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari dua cara penalaran, yaitu:
1.    Deduksi / logika deduktif.
Penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, yaitu faham bahwa rasio atau pemikiran adalah sumber kebenaran. Deduksi adalah cara berfikir dengan menarik kesimpulan khusus dari pernyataan-pernyaatan yang besifat umum; atau dari umum ke khusus. Pernyataan umum tersebut merupakan alasan atau premis yang dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan khusus. Alasan atau premis tersebut merupakan ilmu atau teori sebelumnya yang sudah diakui kebenarannya. Dalam metode ilmiah. Berfikir deduktif ini digunakan pada saat penyusunan hipotesis. Hipotesis disusun secara deduktif dari teori-teori yang disusun secara jelas, logis, dan sistematis sehingga menjadi kerangka pemikiran. Salah satu cara berfikir deduktif adalah silogisme, yaitu dengan contoh berikut:
Premis Mayor : Perusahaan perdagangan mempunyai tingkat persedian tinggi
[ misal, dari teori sebelumnya yang dijadikan landasan teori ]
Premis Minor : PT TANGGUH adalah perusahaan perdagangan [ misal, tempat penelitian kita ]
Kesimpulan : PT TANGGUH mempunyai tingkat persedian tinggi [ kesimpulan yang akan dibuktikan setelah observasi ke perusahaan].
Premis mayor dan premis minor tersebut adalah alasan yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya, dan biasanya merupakan landasan teori sebagai pijakan kita dalam menyusun hipotesis. Implikasinya adalah kita harus menggunakan teori sebagai rujukan yang harus diakui kebenarannya oleh kalangan ilmiah.
2.    Induksi/logika induktif.
Induksi merupakan cara berfikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual; atau dari khusus ke umum. Memang tidak ada keterkaitan erat antara alasan dan kesimpulan yang kuat seperti dalam deduksi. Penalaran induktif terkait dengan empirisme, yaitu faham bahwa pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran. Dalam metode ilmiah berfikir induktif ini  Berdasarkan satu atau lebih fakta atau kejadian yang ditemukan, kita menarik kesimpulan bahwa fakta atau kejadian tersebut juga berlaku umum. Sebagai ilustrasi, jika kita menemukan satu atau beberapa barang yang dijual sebuah toko ternyata rusak maka kita menyimpulkan bahwa seluruh barang di toko tersebut yang diproduksi sebuah perusahaan sudah kadaluarsa. Proses penarikan secara induktif ini dalam prakteknya menggunakan analisis statitik melalui berbagai teknik analisis yang termasuk statistika inferensial.
Sumber pengetahuan yang dibangun berdasarkan logika deduktif dan induktif seperti yang dijelaskan diatas adalah suatu proses penalaran yang dibangun berdasarkan premis-premis yang berupa pengetahuan yang benar.  Kata benar menurut Jujun S Suriasumantri dapat didefinisikan sebagai pernyataan tanpa ragu. Artinya “ketidakraguan” adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk dapat dikatakan mengetahui.” Contohnya kita mengetahui bahwa bilangan lima lebih besar dari bilangan empat dan lebih kecil dari bilangan enam, manakala kita meyakini akan kenyataan itu, meskipun guru kita atau orang lain yang kita anggap pandai mengatakan sebaliknya, namun kita pasti tetap akan mempertahankan pendirian kita terhadap kebenaran tersebut.
Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua sumber utama yang perlu diketahui oleh setiap manusia, yaitu berdasarkan rasio dan pengalaman manusia. Pengetahuan yang diperoleh melalui sumber rasio, kebenarannya hanya didasarkan pada kebenaran akan pikiran semata, pendapat ini dikembangkan oleh para rasionalis, sedangkan orang yang menganut paham tersebut disebut rasionalisme. Sebaliknya, orang yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan diperoleh melalui pengalaman, kebenaran pengetahuan hanya didasarkan pada fakta-fakta yang ada dilapangan, sedangkan orang yang menganut paham ini disebut sebagai kaum empirisitze. Kaum rasionalisme memperoleh pengetahuan yang benar dengan penalaran, logika yang digunakan adalah logika deduktif. Kaum empiris memperoleh pengetahuan melalui pengalaman yang konkret. Contoh dalam hukum Fisika, bila logam dipanaskan akan memuai. Oleh karena itu, pengalaman manusia akan membuahkan pengetahuan mengenai berbagai gejala alam yang mengikuti pola-pola tertentu.
Dalam bidang pendidikan Metode ilmiah (pengabungan deduktif dan induktif) sangatlah penting karena bukan hanya dalam proses penemuan pengetahuan tapi bagaimana menyampaikan penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmuwan. Misalnya cara belajar yang selama ini bersifat konvensional atau tradisonal yang bepusat pada guru “teacher center”berubah kearah  peserta didik sebagi pusat “student center”  membuat para ilmuwan atau guru berpikir kelas bagaimana cara menerapkannya. Kemudian muncullah berbagai metode-metode baru dengan mengunakan berbagai media termasuk media komputer dan internet yang sedang berkembang pesat saat ini. Dengan mengunakan media internet batas ruang dan waktu pembelajaran bagi siswa tidak terbatas, mereka kapan saja dapat mengakses mata pelajaran yang diberikan gurunya kapan dan dimana saja, gurunyapun dapat mengevaluasi hasil belajar siswanya setiap saat.
Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa proses mendapatkan pengetahuan ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah merupakan  penggabungan cara berpikir deduktif dan induktif.

3 komentar:

  1. Trimakasih pa tata... tulisan ini sangat bermanfaat bagi kami..

    BalasHapus
  2. terimakasih Pak atas pencerahannya

    BalasHapus
  3. WOW kereennn, persiapan nyusun tesis nih

    BalasHapus